Asuransi dan Dana Pensiun Mau Borong SBN sampai 2024, Cek Sebabnya

By Moneesa | Insurance | September 23, 2022

Asuransi dan Dana Pensiun Mau Borong SBN sampai 2024, Cek Sebabnya

Bisnis.com, JAKARTA - Seiring gejolak perekonomian yang membuat pasar surat berharga negara (SBN) Indonesia kurang menarik di mata investor asing, sektor asuransi dan dana pensiun justru diramal terus melakukan aksi borong sampai dua tahun mendatang.

Research Associate IFG Progress Rizky Rizaldi Ronaldo mengungkap bahwa fenomena ini terdorong kecenderungan para pemain untuk menerapkan strategi investasi yang semakin konservatif, dalam rangka menghadapi beragam potensi ketidakpastian ke depan.

"Ketika asing jual SBN kita, asuransi dan dana pensiun masuk dengan nilai lebih dari Rp170 triliun sepanjang tahun berjalan, dan menurut catatan kami merupakan yang terbesar selama satu dekade terakhir. Dalam waktu dekat, kami lihat masih akan terus bertambah," ujarnya dalam diskusi terbatas bersama media, dikutip Kamis (22/9/2022).

Secara terperinci, fenomena ini tergambar dari data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan terkait kepemilikan SBN dan SBSN per 21 September 2022, di mana kepemilikan asuransi dan dana pensiun mengambil porsi Rp831,1 triliun atau 16,4 persen dari total.

Sebagai perbandingan, total kepemilikan asuransi dan dana pensiun di SBN dan SBSN pada awal tahun porsinya Rp665,36 triliun atau 14 persen. Adapun, pada Juni 2022, porsinya Rp772,65 triliun atau 15,9 persen dari total. Tren nominal kepemilikan asuransi dan dana pensiun di setiap akhir bulan pun belum pernah menurun sama sekali sepanjang tahun ini.

IFG Progress melihat bahwa strategi memborong SBN turut didorong kecenderungan sektor asuransi dan dana pensiun memanfaatkan kemampuannya menahan SBN secara jangka panjang, walaupun harganya berpotensi merosot dalam waktu dekat.

Namun, ada pula faktor-faktor lain. Misalnya, dalam rangka memenuhi kewajiban regulasi tertentu, atau karena instrumen pendapatan tetap (fixed income) lain seperti obligasi korporasi belum begitu menarik karena pilihannya terbatas.

Terlebih, IFG Progress melihat adanya kemungkinan Indonesia memasuki periode kurva imbal hasil terbalik alias inverted yield curve, di mana imbal hasil surat utang jangka pendek justru lebih tinggi ketimbang imbal hasil surat utang jangka panjang.

Proyeksi ini merupakan kombinasi dari peluang tren terus terdongkraknya suku bunga acuan untuk mengimbangi lonjakan inflasi, dampak konflik geopolitik, ketidakpastian kondisi perekonomian nasional selama periode endemi, serta kondisi ketidakpastian memasuki tahun politik alias periode 2024.

Terlebih, pada tahun politik nanti akan berlangsung pergantian presiden, yang secara historis memperbesar peluang munculnya ketidakstabilan kondisi perekonomian nasional dalam jangka waktu pendek-menengah.

Beberapa faktor tersebut diramal memperkuat kemungkinan SBN bertenor panjang terus dilego investor asing dalam beberapa waktu ke depan, di mana setelah itu para pemain asuransi dan dana pensiun lokal yang akan menjadi penampungnya.

Oleh sebab itu, Research Associate IFG Progress Mohammad Alvin Prabowosunu dalam kesempatan yang sama menambahkan bahwa tantangan buat para pemain dalam dua tahun ke depan akan berada dari sisi berkurangnya fleksibilitas untuk mendongkrak kinerja investasi.

"Ketika fenomena ini terjadi, di mana ekspektasi terhadap yield obligasi tenor pendek terus menguat dan habis itu harga obligasi tenor panjang turun, tentu ini akan berdampak terhadap entitas seperti dana pensiun, yang punya ketentuan harus menjaga penempatan dana kelolaannya ke instrumen fixed income dalam persentase tertentu," ujarnya.

Sementara itu, di samping pengaruh terhadap kinerja investasi, Research Associate IFG Progress Afif Narawangsa Luviyanto mengungkap fenomena ini turut berpeluang membuat produk dari beberapa lini bisnis asuransi harganya naik, karena tingkat risiko yang tak sebanding dengan kinerja investasi.

"Fenomena ini akan membuat para pemain memperkirakan biaya yang dikeluarkan untuk investasi akan naik, karena tingkat risiko dalam jangka pendek juga naik. Selain itu, ada juga potensi pelemahan pendapatan premi karena proyek-proyek yang diasuransikan berkurang, sebab inverted yield curve secara umum akan berdampak ke banyak sektor," jelas Afif.

Sebagai informasi, menilik data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait penempatan investasi asuransi jiwa, asuransi umum, dan dana pensiun terhadap SBN per Juli 2022, ketiganya pun kompak mencatatkan peningkatan.

Penempatan para pemain industri asuransi jiwa ke SBN meningkat sekitar 17 persen (year-to-date/ytd) menjadi Rp123,83 triliun. Adapun asuransi umum naik 29 persen ytd menjadi Rp23,82 triliun. Sementara itu, dana pensiun pun naik 5,5 persen menjadi Rp97,78 triliun.

Sumber : Bisnis.com